Filosofi Pesawat Dalam Iman Dan Taqwa- Ustadz Adi Hidayat

Posted on

Menerbangkan Negeri Sumbawa Menuju Baldatun Toyyibatun

Ternyata, kalau ingin akhirnya sukses, membahagiakan, tenang, nyaman, kita mesti berani terbang. Mesti menghadapi rintangan, mesti melewati tantangan. Orang yang terbiasa melewati tantangan adalah orang-orang yang memiliki kekuatan paripurna.

Orang yang berani terbang, orang yang akan membuka wawasan dan mencapai kemajuan, dan yang paling membahagiakan saat tiba di hotel, itu muncullah…

Ayat-ayat Quran yang Insya Allah Menginspirasi Pertemuan Kita Malam Ini

Terkait dengan filosofi terbang. Untuk itu, kenapa nanti, ada orang-orang yang mengilustrasikan kemajuan negeri itu seperti pesawat terbang? Ada negeri dengan pilot yang hebat, ada negeri yang menggunakan… Kalau kita ingin gabungkan ini menarik, Pak, Ibu, saudara-saudariku sekalian, Pak Bupati.

Tidak mungkin ada pesawat terbang itu kalau tidak ada orangnya, dan orangnya itu mesti saling bersinergi. Ada yang bertugas, ada yang menjadi penumpang. Kalau pilotnya ada, penumpangnya tidak ada, pesawatnya terbang tidak, tidak. Kalau penumpangnya ada, pilotnya tidak ada, terbang tidak, tidak. Pilot ada, penumpang ada, landasannya tidak ada, terbang tidak, tidak. Ada yang mengatur penerbangan, ATC-nya, tidak ada, terbang tidak.

Jadi, untuk terbang, untuk menemukan sesuatu yang baru, untuk mendapatkan sesuatu yang luas, pengalaman bagus, mendapatkan kemegahan, melihat semua hal dengan jelas, maka mesti ada kumpulan orang-orang yang bersinergi dengan profesi yang berbeda-beda. Di Alquran semua itu disebut dengan umat. Namanya…

Umat

Jadi, kalau satu negeri ingin maju, Sumbawa 64 tahun ingin maju, ingin menginspirasi, ingin jadi negeri yang hebat, kabupaten yang berkembang, berkemajuan, maka syarat pertama mesti ada umatnya, mesti ada penduduknya yang datang kompak, punya satu tujuan, visi dan misi yang sama. Umat, namanya apa? Namanya…

Al Quran Surah Ke-3 Ayat 104

Ini pembukaan yang Allah sampaikan dalam Alquran. Jadi, begitu disebutkan Ustaz Sumbawa Milad yang ke-64 turun dari pesawat yang muncul pertama kali itu, kata umat. Quran surah ke-3 ayat 104. Musik.

Jadi, kalau Sumbawa ingin maju, Sumbawa ingin berkembang, Sumbawa ingin mencapai peradaban, pertama mesti ada umatnya dulu. Alhamdulillah, 59.234 jiwa, 24 Kecamatan, 8 Kelurahan, 157 Desa, sudah ada umatnya. Pak Bupati ini penumpang lengkap. Sekarang, kalau penumpangnya lengkap, maaf, tujuannya nggak ada pesawat. Kalau kita naik, nggak ada tujuan, mungkin terbang tidak, maka teruskan ayatnya waltakum minkum.

Kompak Mencapai Tujuan

Mesti ada tujuan, mau ke mana pesawat itu dikemudikan, di mana landingnya, apa tujuannya. Maka yang pertama dilakukan, kata Alquran, semua warga Sumbawa itu, kalau kita tarik ke Sumbawa, mesti kompak bersinergi untuk mencapai tujuan yang sama, mesti punya visi.

Karena itu, ketika saya turun, pertama yang saya lihat, Sumbawa Samawa itu, tujuannya ada. Kita cara-cara berkitab kita itu, tujuannya. Jadi, 59.234 orang itu yang masuk ke pesawat Sumbawa, itu tujuan akhirnya landingnya Samawa.

Mesti kompak. Betapapun penumpang pesawat berbeda-beda fungsinya, tidak akan sama, tapi tujuannya mesti sama. Jadi, kalau satu pesawat, tujuannya berbeda, enggak akan pernah sampai. Pesawatnya satu. Kali pesawat sudah siap terbang, penumpang sudah siap, tiba-tiba ada yang nyerobot ke kelas depan pramugari kasih tahu, Pak, tempatnya bukan di sini.

Nggak mau dengar, saya ngantri dari sebelum subuh, katanya. Diberitahu, juga tak mempan, bingung. Tiba-tiba datang seorang alim ulama, lihat Kyai, tokoh, Tuan Guru, ditanya, kenapa? Diceritakan begini, begini, begitu. Kurasinya di belakang, duduk depan kelas bisnis, tenang aja.

Dibisiki oleh beliau, ini begitu dibisiki, tak tunggu lama, langsung pergi ke belakang, pramugari heran, kemudian tanya Tuan Guru, apa yang dibisiki tadi? Saya cuma tanya, Bapak mau ke mana? Dia jawab, saya Sumbawa, Pak.

Balasan Tak Terhitung Bagi Yang Tak Menghitung – Ustadz Adi Hidayat